Wednesday, 4 January 2017

Keluarga Kancil, Buaya dan Ular Betina

        Senja telah lama menghilang, malampun kini datang menjelang namun tak berapa jarak dari tempat sang kancil berdiri, deru kebisingan suara kendaran roda empat dan bermotor yang melintas terlihat sibuk, lebih tepatnya macet, mungkin ini disebabkan karena hari ini adalah hari terakhir mereka libur pergantian tahun dan besok saatnya mereka memulai kembali semua aktifitas dengan semangat baru, impian baru, tahun ini tak seperti tahun-tahun sebelumnya disaat kancil dan keluarganya ikut terjebak dengan suasana macetnya jalan pulang, tapi tidak tahun ini dan mungkin tahun berikutnya semua akan berbeda tak lagi sama, banyak yang telah mereka lalui seawal tahun kemarin hingga penghujung tahun ini, cerita suka, bahagia dan duka semuanya datang silih berganti bagaikan putaran waktu yang begitu cepat merengget senyum dibibir kancil, istri,ibu dan anak-anaknya. 

Malapetaka itu datang dipertengahan tahun ini, cerita dan berita yang dibawa oleh orang suruhan penguasa laksana terompet kematian yang sengaja datang mengambil jiwa dan raga mereka, semua perubahan itu terasa sangat drastis dan akan berpengaruh mungkin hingga penghujung usia mereka, (Tuhan semoga kami masih bisa tersenyum setelah semua ini, gumam sang kancil). Perperangan dua sisi bathin berkecamuk dalam otaknya, anehnya untuk kali ini mereka sepakat mereka sependapat bahwa sang kancil telah dijebak,dia sengaja ditelantarkan demi kekuasaan dan amarah dendam yang tak terkira.

Berkali-kali kancil meyakinkan diri dan istrinya, semua ini pasti akan berakhir, semua ini hanyalah mimpi buruk yang kan menjadi bahan lelucun mereka disuatu hari nanti. namun kenyataan yang terpampang dikehidupan nyata tetap tak mau membujuk hati dan perasaannya, kegalauan kegundahan keputusasaan bahkan mampu hadir dalam ruang mimpi yang seharusnya tempat bersembunyi yang paling aman dari segala tempat yang tersisa didunia ini. (Tuhan semoga mereka tidak kalah). Sumpah serapah semua tak akan ada artinya, memberontak ataupun bertindak brutal bukanlah suatu jalan pilihan karenakancil tahu pasti itu bukan dia, bukan dirinya.

Banyak sahabat yang dia tahu pasti akan bersedia memberikan jalan, ruang dan kesempatan buat sang kancil, dan itu ia syukuri telah memiliki mereka, ketulusan mereka menolong disaat sang kancil benar-benar butuh tangan mereka ( terima kasih sahabat, terima kasih Tuhan, bathin sang kancil). Dua kali dalam hidupnya sang kancil melihat istrinya menangis, berkali-kali hatinya teriris karena keadaan dan kondisinya membuat kesedihan yang berkepanjangan buat dia, aku harus bekerja, aku harus mendapatkan pekerjaan itu, tak peduli apapun resikonya akan aku jalani asalkan aku bisa melihat senyum diwajah mereka, ibu istri dan anak-anakku, kembali sang kancil membathin.

Setelah semua mulai beranjak sepi, jam di didinding langit menunjukan hampir tengah malam sesaat lagi pergantian tahun, saatnya pulang, kembali ke peraduan menemui istri tercinta yang selalu setia dan penuh senyum walau dirinya ikut terjebak dalam situasi akibat ulah takdir suaminya, aku si kancil yang sedang sial. Dengan sisa kekuatan kakinya sang kancil mencoba menyeret langkah kaki ke sarang tumpukan kayu yang mereka sebut rumah, istrinya sedang tidur pulas sambil merangkul buah hati mereka yang anehnya tampak tenang dalam dekapannya padahal biasanya sikecil akan meronta saat tahu dirinya dipeluk atau disentuh saat tidur, sudah kebiasaan sejak mereka menikah beberapa tahun yang lalu sang kancil selalu memperhatikan ekspresi istrinya tiap tidur, bahkan dalam tidurnyapun tak pernah ada rileks diwajahnya, sayang maafkan aku, seandainya aku mampu berbuat lebih untuk membahagiakanmu, lirih sang kancil. bayangannya kembali kemasa belasan tahun lalu disaat persahabatannya dengan sang buaya selalu ditentang oleh bangsanya, bahwa suatu hari sang kancil hanya akan menjadi santapan sang buaya namun dia tak perduli dan berusaha meyakinkan bangsanya bahwa buaya yang satu ini sangat baik sangat beda dengan buaya-buaya lainnya.

Tapi sudahlah, bathin sang kancil, karena dia tak akan mampu membuat sejarah persahabatan antara kancil dan buaya adalah benar adanya, namun naluri masing-masing juga beda, karena kancil tetaplah makanan buat buaya. Lihatlah disisi lainnya waktu dan keadaan telah membuka kebenaran bahwa sejarah adalah sejarah dan itu tak akan pernah bisa berubah. Beberapa bulan yang lalu komunitas mereka kedatangan penghuni baru seokor ular betina dan seekor rubah jantan dari semula sang kancil sebenarnya telah sadar dan awas atas mereka dan dapat ditebak ular betina itu memang licik dan mampu mempermainkan drama berbagai peran dengan tingkahnya, beberapa kali kancil pernah melihat bagaimana sang ular licik betina mengeluarkan bisa  beracunnya mengadu domba  menyerang hampir semua penghuni komunitas hutan kecil mereka dan memang terlihat nyata memang buaya sangat cocok dengan ular betina. Dengan tipu daya mereka mampu membolak balik kan keadaan bahkan singa penguasa hutan sebenarnya pun mampu bertekuk lutut dengan mulut manis dan seringai manisnya, hanya menunggu waktu wahai penguasa rimba, aku tahu dasarnya kamu baik tapi tetap saja kamu mampu diperdayai mereka, erang sang kancil. dapat dibayangkan bagaimana nasib mereka penghuni rimba lainnya yang terombang ambing seperti teka-teki selalu berdoa semoga kemarahan sang buaya dan tipu daya ular betina jauh dari kehidupan mereka semua.

Sampai pada satu titik, teman penjaga malam memperingatkan tanda pergantian malam dengan pagi dengan kokokannya tak terasa mata sang kancil pun ikut terpejam sekedar menyandarkan sedikit keletihan semoga diujung mimpi menjelang pagi ini tercipta setitik bahagia dan harapan. Besok saat matahari menjelang aku akan berkelana lagi berfikir mencari tempat berpijak yang baru untuk kalian orang-orang yang aku cintai, ibu, istri dan anak-anakku, aku akan selalu berjuang untuk kalian, gumam sang kancil

No comments:

Post a Comment